Gelombang panas luar biasa melanda Jerman selama musim panas 2026. Berdasarkan data dari Robert Koch Institute (RKI), hingga pertengahan Juli, angka kematian yang diduga terkait suhu tinggi telah mencapai sekitar 9.800 jiwa.

Pada akhir Juni, beberapa kota di Jerman mencatat suhu hingga 41 derajat Celsius, sebuah rekor baru di negara tersebut. Rata-rata suhu mingguan juga meningkat hingga 26 derajat Celsius. Para pakar menyatakan bahwa kelompok lansia dan pasien dengan penyakit kronis merupakan pihak yang paling rentan terdampak oleh cuaca ekstrem tersebut.

RKI menjelaskan bahwa angka kematian akibat panas tidak tercatat secara langsung, melainkan diperkirakan melalui analisis statistik antara rata-rata suhu mingguan dan angka kematian. Penelitian menunjukkan, sebagian besar kematian yang terjadi akibat gelombang panas dipicu secara tidak langsung oleh komplikasi pada penyakit jantung, paru-paru, dan ginjal. Epidemiolog Alexandra Schneider menilai metode estimasi ini masuk akal, serta menyebutkan bahwa jumlah kematian selama periode panas kali ini telah mencapai level yang diantisipasi.

Dampak kenaikan suhu tak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, melainkan juga tenaga medis. Di negara bagian Brandenburg dan sejumlah wilayah lain, fasilitas kesehatan seperti ambulans dan rumah sakit yang tidak dilengkapi pendingin udara menghadapi tantangan berat dalam menjalankan tugas di tengah suhu tinggi. Ada pula peningkatan kasus serangan jantung dan stroke yang lebih sering serta berisiko fatal saat cuaca sangat panas. Para ahli memperingatkan bahwa perubahan iklim bisa meningkatkan jumlah kematian akibat panas di masa mendatang.